KSBSI Gelar Workshop Nasional untuk Menghadapi Transisi Energi yang Adil dan Masa Depan Pekerjaan

KSBSI Gelar Workshop Nasional untuk Menghadapi Transisi Energi yang Adil dan Masa Depan Pekerjaan

Elly Rosita Silaban Presiden KSBSI foto:media ksbsi

Jakarta, – Konfedrasi Serikat Buruh seluruh Indonesia (KSBSI) menyelengarakan Workshop Nasional deangan Thema “Pemetaan Strategi Kerja Federasi dalam Isu Transisi yang Adil dan Masa Depan Pekerjaan”, kerja sama antara KSBSI dan KSPI semakin erat berkat kehadiran tamu undangan dari berbagai lembaga nasional dan internasional yang memaparkan perspektif baru tentang isu Just Transition.

Baca juga:  Aliansi Just Transition Gelar Diskusi Soroti Kerangka Kerja JETP Indonesia,

Pertemuan yang di hadiri oleh peserta 11 Federasi afiliasi KSBSI dan Affiliasi  KSPI



Diawali dengan sambutan, Presiden KSBSI Ely Rosita Silaban menekankan pentingnya transisi berkeadilan dalam menghadapi dampak perubahan iklim terhadap pekerja di Indonesia. isu-isu krusial terkait dampak perubahan iklim terhadap sektor ketenagakerjaan, strategi adaptasi, serta peran penting pemuda dan perempuan dalam merumuskan kebijakan.


Realitas krisis iklim yang semakin nyata, bukan lagi sekadar isu masa depan. Perubahan pola cuaca, kerusakan lingkungan, dan dampaknya pada kehidupan serta pekerjaan jutaan orang di seluruh dunia.


“Sektor-sektor yang paling rentan terhadap dampak perubahan iklim adalah pertanian, perikanan, energi, transportasi, dan manufaktur. Pekerja di sektor-sektor ini tidak hanya menghadapi risiko kehilangan pekerjaan, tetapi juga risiko terhadap kesehatan, penghasilan, dan keberlangsungan hidup keluarga mereka.,”ujar ELly.


Lannjut, Elly Rosita  juga menyoroti pentingnya transisi energi yang berkeadilan. Transisi ini tidak boleh hanya berfokus pada teknologi atau investasi, tetapi harus menempatkan manusia dan kegiatan mereka di pusat perubahan. KSBSI ingin memastikan transisi menuju ekonomi hijau tidak menciptakan pengangguran baru, memperdalam kesenjangan sosial, dan mengorbankan hak-hak pekerja.


"Transisi ini harus mencari peluang untuk menciptakan pekerjaan yang layak, memperkuat jaminan sosial, dan mendorong keterampilan baru bagi pekerja,"imbuhnya.


Salah satu poin penting yang ditekankan adalah perlunya dialog sosial yang melibatkan pemerintah, pengusaha, akademisi, dan organisasi masyarakat sipil (NGO) untuk memperkuat partisipasi dalam proses transisi. Selain itu, KSBSI  juga mendorong keterlibatan perempuan, serta perhatian khusus terhadap peran pemuda dalam gerakan buruh.


“Mayoritas konfederasi di Indonesia sangat minim memiliki pemuda yang bisa dipersiapkan untuk meneruskan perjuangan ini di masa depan,” katanya.


KSBSI melihat pentingnya pemuda sebagai generasi penerus yang harus dipersiapkan untuk melanjutkan perjuangan di masa depan.


KSBSI berkomitmen untuk terus mengawal isu perubahan iklim, terutama dampaknya terhadap pekerja. Melalui dialog sosial, kebijakan yang berkeadilan, dan keterlibatan aktif pemuda dan perempuan, berharap dapat menciptakan masa depan yang lebih baik bagi pekerja di Indonesia.


Acara dilanjutkan dengan diskusi panel bertema "Perlindungan Tenaga Kerja dalam Adaptasi dan Mitigasi Perubahan Iklim". Acara yang diselenggarakan di Hotel Sparks Life, Jakarta, (20-21/10/2025)


Dalam dunia yang semakin mengedepankan isu lingkungan dan keberlanjutan, peran serikat pekerja menjadi sangat vital. Baru-baru ini, sebuah workshop nasional hadir  sejumlah tamu penting  Programme Officer (for Asia) Mrs. Nimfa Atienza, International Adviser Head Office Mrs. Lotte Ellegaard, serta perwakilan Kedutaan Besar Denmark, Presiden KSBSI Ely Rosiata Silaban, Sekretaris Jenderal DEN KSBSI Dedi Hardianto dan Sekretaris Jenderal KSPI Ramidi. Kehadiran para tamu ini merupakan bentuk dukungan nyata terhadap upaya serikat pekerja Indonesia dalam mendorong transisi energi dan ekonomi yang berkeadilan bagi pekerja.


Sesi diskusi panel yang digelar dalam workshop tersebut menghadirkan narasumber dari berbagai instansi, seperti Kementerian PPN/Bappenas, APINDO, Kementerian Ketenagakerjaan, dan Kementerian Lingkungan Hidup. Diskusi ini berfokus pada pentingnya kolaborasi tripartit dalam merancang kebijakan berkelanjutan dan menciptakan pekerjaan hijau. Para narasumber berbagi pandangan dan strategi tentang bagaimana sektor publik, swasta, dan serikat pekerja dapat bekerja sama untuk mengembangkan kebijakan yang tidak hanya ramah lingkungan tetapi juga mendukung kesejahteraan pekerja. Ini adalah langkah strategis dalam menciptakan masa depan yang lebih baik bagi seluruh masyarakat.


Usai sesi panel, peserta workshop melanjutkan dengan diskusi kelompok untuk menyusun Rencana Tindak Lanjut (RTL) dan kertas kerja sektoral. Kegiatan ini bertujuan untuk merumuskan panduan advokasi yang akan diterapkan di tingkat federasi masing-masing. Melalui RTL ini, diharapkan ada langkah-langkah konkret yang bisa diambil untuk memastikan bahwa inisiatif yang dihasilkan bukan hanya sekedar wacana. Peserta diajak untuk berpikir kritis dan kreatif dalam merumuskan solusi yang mampu menjawab tantangan transisi energi dan ekonomi secara adil.


Workshop nasional ini ditutup dengan penyampaian kesimpulan dan pesan penutup dari perwakilan KSBSI. Ditekankan bahwa sinergi antara serikat pekerja, pemerintah, dan mitra internasional sangatlah penting untuk memastikan Just Transition benar-benar berpihak pada kesejahteraan buruh dan keberlanjutan bumi.


Dengan adanya kerjasama dan komitmen dari semua pihak, diharapkan langkah-langkah menuju pekerjaan yang berkeadilan sosial dan ramah lingkungan dapat terwujud. Masa depan yang lebih baik tidak hanya untuk pekerja, tetapi juga untuk generasi mendatang, akan dimungkinkan jika kita semua berkolaborasi dan berkomitmen terhadap tujuan bersama ini. (Red)



Komentar