Kerahkan Puluhan Ribu Massa, KSBSI: May Day Bukan Sekedar Seremoni

Kerahkan Puluhan Ribu Massa, KSBSI: May Day Bukan Sekedar Seremoni

Dalam peringatan Hari Buruh Internasional, Presiden Prabowo Subianto menjadi presiden pertama sejak era Soekarno yang bersedia hadir dalam peringatan May Day,

Baca juga:  FESDIKARI KSBSI Siap Kawal Kasus Kepsek SMAN 1 Cimarga,

JAKARTA - Konfederasi Serikat Buruh Seluruh Indonesia (KSBSI) siap mengerahkan puluhan ribu massa dalam agenda peringatan hari Buruh Internasional 1 Mei 2026 atau dikenal sebagai May Day. Peringatan ini menjadi wajib bagi organ buruh berusia 34 tahun yang kini memiliki afiliasi yang terdiri atas 12 Federasi dan 1 Serikat buruh.

KSBSI adalah organ buruh independen pertama di Indonesia yang lahir di masa rezim Soeharto. Dalam konstruksi demokrasi modern, kelembagaan serikat buruh seperti KSBSI merupakan pilar demokrasi ke empat,di luar tiga pilar lain yang sudah lebih dahulu muncul, yaitu; partai politik, pers, dan masyarakat sipil (civil society).

Kehadiran serikat buruh merupakan suatu indikator ciri negara demokrasi.Negara tanpa serikat buruh dianggap timpang dan dikategorikan sebagai negara yang kurang demokratis. Perspektif ini sampai sekarang dianggap benar, setidaknya serikat buruh adalah alat distribusi perekonomian yang paling efektif dalam masyarakat industri, dimana hak berunding secara kolektif yang di miliki Serikat buruh, seperti dalam pembuatan Perjanjian Kerja Bersama (PKB), telah membuat serikat buruh menjadi sebuah lembaga paling efektif dalam distribusi.

Dalam peringatan Hari Buruh Internasional, Presiden Prabowo Subianto menjadi presiden pertama sejak era Soekarno yang bersedia hadir dalam peringatan May Day, dimulai pada May Day tahun lalu dan rencana akan hadir pada May Day tahun ini. Bukan cuma itu saja, kebijakan Pemerintahan Prabowo juga bisa disebut mulai berpihak kepada buruh Indonesia.

Untuk itu, Presiden KSBSI Elly Rosita menyebut kehadiran Presiden selama dua tahun berturut-turut menjadi sinyal penting bagi gerakan buruh. Menurut dia, hal itu bukan kekuatan satu orang, melainkan hasil dari kekuatan kolektif serikat buruh/pekerja.

“Di negara mana pun ini tidak mudah, tapi ini adalah kekuatan kolektif serikat buruh, bukan kekuatan satu orang,” ujar Elly Rosita dalam konferensi pers perayaan May Day 2026 dikutip, Kamis 30 April 2026.

Elly mengulas, Ia teringat obrolan singkat dengan seorang buruh tekstil di Tangerang tahun lalu. buruh itu bilang, yang paling melelahkan bukan jam kerja panjang, tetapi rasa tidak pasti apakah bulan depan masih bekerja atau justru terkena PHK. Kalimat itu terasa relevan hingga hari ini. Harus ada upaya dari pemerintah untuk mencegah terjadinya PHK. Selain itu, Elly berharap Presiden Prabowo mengumumkan ratifikasi Konvensi 188 yang sebelumnya sudah dijanjikan. Selain itu, buruh juga meminta ratifikasi Konvensi 190 tentang kekerasan di tempat kerja.

Pekerja ojek online juga masuk dalam daftar perhatian utama. Buruh menilai kelompok ini membutuhkan perlindungan hukum dan jaminan kesejahteraan yang lebih jelas. Tak hanya itu, serikat pekerja juga meminta pernyataan resmi soal Undang-Undang Ketenagakerjaan yang ditargetkan disahkan pada September atau Oktober 2026.

“Lalu di statement beliau nanti akan kita minta dan bisikkan supaya beliau ber-statement tentang Undang-Undang Ketenagakerjaan,” tandas Elly.

May Day Dinilai Bukan Sekadar Seremoni

Dalam forum yang sama, pimpinan serikat pekerja menepis anggapan bahwa May Day hanya seremoni tahunan tanpa substansi. Mereka menegaskan tema besar tahun ini adalah perjuangan nyata untuk perlindungan dan keadilan buruh. Data pengangguran menjadi alasan utama. Serikat pekerja mencatat sekitar 7,2 juta rakyat Indonesia masih menganggur, sementara 11 juta lainnya masuk kategori setengah pengangguran dan rentan kehilangan pekerjaan.

Setiap tahun, sekitar 2 juta angkatan kerja baru juga masuk ke pasar kerja. Tekanan itu membuat isu PHK, outsourcing, dan upah layak menjadi semakin mendesak.

“Perayaan May Day secara bersama-sama dan Pak Prabowo hadir, ini adalah wujud kepedulian luar biasa dari pemerintah terhadap pekerja buruh Indonesia,” ujar salah satu pimpinan konfederasi.

Panitia juga meminta seluruh peserta menjaga ketertiban, terutama saat pembagian makan siang dan sembako usai salat Jumat. Pengamanan akan diperketat bersama aparat kepolisian.

Tema May Day 2026 adalah “Solidaritas Tanpa Batas, Tanpa Sekat, Tanpa Perbedaan, dan Berjuang Bersama untuk Kesejahteraan Buruh Indonesia yang Berkeadilan.”

Bagi buruh, tema itu sederhana, tetapi sangat nyata: kerja yang aman, upah yang cukup, dan pulang ke rumah tanpa dihantui ketakutan kehilangan pekerjaan. [*/REDKBB]

Komentar