Trade Union Advisory Committee (TUAC) mengundang Sekjen OECD Mathias Cormann untuk bicara tentang prioritas strateginya mengenai aksesi negara yang akan menjadi anggota OECD, salah satunya adalah Indonesia.
Baca juga: Hadir di Regional Training ITUC-DTDA, Youth KSBSI Kupas Pentingnya Peranan Media untuk Kampanye ,
PARIS, KSBSI.ORG - Presiden Konfederasi Serikat Buruh
Seluruh Indonesia (KSBSI) Elly Rosita Silaban hadir menjadi salah satu peserta
dalam Rapat Pleno Trade Union Advisory Committee (TUAC); Rapat pleno ini
merupakan sidang atau pertemuan resmi dari komite penasihat serikat buruh
global yang berfungsi sebagai penghubung antara gerakan buruh internasional
dengan Organisasi Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan atau Organization for Economic Co-operation and Development (OECD) beranggotakan 38
negara yang merepresentasikan 80% aktivitas perdagangan dunia dan berkontribusi
pada 41.1% GDP global.
Dari komposisi keanggotaan, dari 38 negara anggota OECD,
33 negara (87%) berstatus sebagai negara maju dan 5 negara (13%) mewakili
kelompok negara berkembang. Saat ini Indonesia memang belum menjadi anggota
penuh OECD melainkan sedang dalam proses aksesi (pendaftaran) untuk menjadi
anggota penuh yang diajukan sejak awal tahun 2024.
OECD secara resmi menyetujui peta jalan (roadmap) aksesi
Indonesia. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara Asia Tenggara pertama
dan negara Asia ketiga (setelah Jepang dan Korea) yang berproses untuk
bergabung dalam OECD.
Menariknya, di sela-sela pelaksanaan rapat pleno TUAC
yang digelar di Paris, 1-2 Juni 2026, Elly Rosita bertemu langsung Deputi
Bidang Koordinasi Kerja Sama Ekonomi dan Investasi Kementerian Koordinator
Bidang Perekonomian RI, Edi Prio Pambudi.
"Saya melakukan pertemuan singkat dengan Bapak Edi
Prio Pambudi," kata Elly dalam keterangan resminya kepada redaksi, Rabu
(3/6/2026).
Elly juga juga berkesempatan berbincang dengan Mr. Nicola
Bonucci (OECD), guna bertukar pandangan mengenai perkembangan proses aksesi
Indonesia ke OECD serta isu-isu ketenagakerjaan terkait.
Respon KSBSI atas
Presentasi Sekjen OECD
Pada rapat pleno TUAC hari pertama yang dihadiri oleh
Sekretaris Jenderal (Sekjen) OECD Mathias Cormann. Presiden KSBSI mendapat
kesempatan sebagai peserta pertama untuk merespons presentasi Sekjen OECD.
"Saya menegaskan bahwa proses aksesi ini harus
dipandang sebagai peluang strategis untuk memastikan bahwa pertumbuhan ekonomi
berjalan seiring dengan kemajuan sosial." ungkap Elly.
Oleh karena itu, aksesi Indonesia ke OECD tidak hanya perlu berkontribusi pada peningkatan kinerja ekonomi, tetapi juga harus menjadi sarana untuk memperkuat pekerjaan yang layak, keadilan sosial, dialog sosial, serta penghormatan terhadap hak-hak pekerja dan kebebasan berserikat.

Peluang Strategis
Indonesia
Diketahui, dalam pleno tersebut, TUAC mengundang Sekjen OECD Mathias Cormann untuk bicara tentang prioritas strateginya mengenai aksesi negara yang akan menjadi anggota OECD, salah satunya adalah Indonesia.
KSBSI memandang proses aksesi Indonesia ke OECD sebagai
peluang strategis tidak hanya untuk memperkuat kinerja ekonomi tetapi juga
untuk memajukan pekerjaan yang layak, keadilan sosial, dan hak-hak pekerja.
Peluang tersebut adalah:
1. Aksesi OECD
Harus Menghasilkan Pekerjaan yang Lebih Baik bagi Pekerja
Meskipun pertumbuhan ekonomi dan investasi penting,
pekerja Indonesia berharap bahwa aksesi OECD juga akan berkontribusi pada
pekerjaan berkualitas lebih baik, upah yang adil, perlindungan tenaga kerja
yang lebih kuat, dan pengurangan ketidaksetaraan.
Bagi pekerja Indonesia, aksesi OECD seharusnya tidak
hanya diukur dari indikator ekonomi tetapi juga dari kemampuannya untuk
meningkatkan kualitas pekerjaan dan kesejahteraan pekerja.
2. Memperkuat
Dialog Sosial dan Perundingan Kolektif
Indonesia telah meratifikasi Konvensi ILO yang mendasar,
tetapi tantangan tetap ada dalam memastikan dialog sosial dan perundingan
kolektif yang efektif di semua tingkatan.
KSBSI percaya bahwa dialog sosial yang kuat sangat
penting untuk pembangunan ekonomi berkelanjutan. Kami akan menyambut baik
rekomendasi OECD tentang bagaimana Indonesia dapat lebih memperkuat kerja sama
tripartit dan lembaga perundingan kolektif.
3. Memastikan
Transisi yang Adil
Para pekerja tidak boleh menanggung biaya transformasi
ekonomi. Transisi yang Adil membutuhkan konsultasi yang bermakna dengan serikat
pekerja, investasi dalam pengembangan keterampilan, jaminan pekerjaan, dan
perlindungan sosial yang memadai.
4. Mengatasi
Pekerjaan Tidak Tetap dan Pekerjaan Berbasis Platform
Munculnya pekerjaan non-standar, alih daya, dan pekerjaan
berbasis platform menghadirkan tantangan signifikan bagi perlindungan tenaga
kerja.
Para buruh tertarik untuk belajar dari negara-negara
anggota OECD tentang kebijakan efektif untuk melindungi pekerja platform dan
pekerja dalam bentuk pekerjaan non-standar sambil mempertahankan daya saing
ekonomi.
5. Perilaku Bisnis
yang Bertanggung Jawab dan Hak-Hak Buruh
Seiring Indonesia semakin terintegrasi ke dalam rantai
pasokan global, khususnya di bidang mineral kritis dan manufaktur, penghormatan
terhadap hak-hak buruh harus tetap menjadi prioritas. Perilaku bisnis yang bertanggung jawab harus
mencakup uji tuntas ketenagakerjaan yang kuat, penghormatan terhadap kebebasan
berserikat, hak tawar-menawar kolektif, dan keterlibatan yang bermakna dengan
serikat pekerja di seluruh rantai pasokan.
6. Partisipasi
Serikat Pekerja dalam Proses Aksesi
Serikat pekerja merupakan pemangku kepentingan utama dalam membentuk kebijakan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan.
KSBSI berharap organisasi pekerja akan terus dikonsultasikan secara bermakna di seluruh proses aksesi Indonesia, memastikan bahwa perspektif buruh tercermin dalam diskusi dan reformasi kebijakan.
“KSBSI mendukung aspirasi Indonesia untuk bergabung dengan OECD. Namun, kami percaya bahwa aksesi yang sukses tidak hanya harus memperkuat daya saing ekonomi tetapi juga mendorong pekerjaan yang layak, hak-hak buruh yang lebih kuat, dialog sosial yang efektif, dan inklusi sosial. Prinsip-prinsip ini mendasar untuk memastikan bahwa manfaat kemajuan ekonomi dinikmati oleh seluruh rakyat Indonesia.”. pungkas Elly.
(Red/Handi).


